Artikel Tentang Sekolah
Tips Tentang Anak
 
 
Anakku Tidak Suka Kelas Barunya...
17 August 2006

Reza adalah anak yang ceria, penurut dan pemberani. Setidaknya, begitulah penilaian Ibu Ayu mengenai anak sulungnya yang berusia 4,5 tahun, hingga tiba saat Reza harus kembali bersekolah setelah hampir satu bulan libur.Reza menjadi pemarah, mudah menangis dan bahkan setiap pagi harus melewati ritual \\\'mogok sekolah\\\' dan baru mau masuk gerbang sekolah apabila diiming-imingi hadiah. Ibu Ayu mulai stress dan kehilangan kesabaran, sekaligus mempertanyakan penyebab perubahan yang begitu drastis pada diri Reza.


Rasa-rasanya cukup banyak di antara kita, yang punya masalah serupa dengan masalah yang dihadapi oleh Ibu Ayu. Di awal tahun ajaran baru ini, suasana sekolah begitu hiruk pikuk, banyak murid yang menangis, mogok di depan gerbang dan bahkan tidak jarang ada yang sampai muntah-muntah. Ini tidak hanya terjadi pada anak-anak yang baru pertama kali bersekolah, tetapi justru banyak dialami oleh anak-anak yang sudah \\\'naik kelas\\\' ke tingkatan lebih lanjut, baik di Taman Bermain maupun di TK.

Zona Nyaman
Menurut Ibu Romy, adalah cukup lumrah bahwa di minggu-minggu pertama (kembali) bersekolah anak menjadi rewel, mudah menangis, ketakutan dan bahkan menunjukkan gejala sakit secara fisik seperti muntah, sakit perut, tangan dingin dll. Bagi sebagian anak, emosi dan gejala fisik tersebut merupakan reaksi atas proses adaptasi yang harus dilalui ketika ia memasuki lingkungan yang berbeda dari yang biasa ia temui.Di lingkungan yang berbeda ini, anak membutuhkan waktu untuk membentuk rasa aman dan nyaman bersama teman-teman baru, guru-guru baru, ruang kelas baru, suasana baru dan mungkin bahkan rutinitas baru yang ditemuinya.

Tentunya di benak kita terbersit pertanyaan, kenapa proses adaptasi dan mendapatkan rasa nyaman ini bisa menjadi masalah yang sulit bagi anak? Apalagi jika anak kita di rumah adalah \\\'jagoan\\\' seperti si Reza dalam ilustrasi di awal tulisan ini; selalu ceria, mudah bergaul dengan siapa saja, aktif, tidak bisa diam.. rasanya pasti aneh sekali kalau sekonyong-konyong kita melihatnya berubah menjadi cengeng, rewel dan sulit beradaptasi.

Sebetulnya tidak aneh juga bila kita telaah bahwa di rumah, tentunya anak sudah terbiasa dengan pola-pola tertentu, apalagi menyangkut pengasuhan, cara bermain dan yang terpenting, dalam hal perhatian yang didapat anak di rumah, biasanya cenderung tak terbagi (kalaupun terbagi, pastinya sebatas dengan 2-5 anak saja). Sementara itu, sekolah biasanya menjalankan program kegiatan yang terstruktur, memiliki aturan yang harus diikuti dan dalam hal perhatian Guru, anak harus berbagi dengan teman-temannya. Perbedaan ini tentunya membuat sebagian anak berpikir \\\"Apakah aku aman di sini? Kok beda sekali ya dengan di rumah?\\\" Apalagi bagi sebagian anak, terutama yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan hanya sedikit saja orang lain (apalagi bila orang lainnya melulu orang dewasa) kemungkinan besar segala kebutuhannya secara otomatis terpenuhi tanpa ia harus bersusah payah mengkomunikasikan kebutuhan tersebut. Sehingga pada saat ia harus \\\'bersaing\\\' dengan teman-teman sebayanya untuk mendapatkan perhatian Guru agar kebutuhan dan keinginannya dipenuhi, ia merasa frustrasi dan kesulitan.

Hal yang sama terjadi pada saat anak kita \\\'pindah kelas\\\' sehingga mendapatkan Guru, teman-teman atau bahkan ruangan yang berbeda. Setelah kurang-lebih satu tahun ajaran sebelumnya ia terbiasa dengan Guru, teman-teman dan lingkungan yang lama, tempat baru merupakan hal asing yang tidak mudah ia \\\'kuasai\\\'. Ia kembali harus mengawali proses membentuk zona nyaman; memastikan bahwa Guru baru, teman-teman baru dan kelas baru ini cukup aman baginya.

Kerjasama Guru dan Orangtua
Seperti halnya dalam masalah apapun yang dihadapi anak, untuk bisa memudahkan proses adaptasi dibutuhkan kerjasama antara Guru dan Orangtua. Guru memegang peran melalui pendekatannya di sekolah, karena guru inilah yang akan menunjukkan kepada anak bahwa tempat yang baru, teman-teman yang baru dan juga dirinya bukanlah merupakan \\\'ancaman\\\' bagi anak tersebut. Pendekatan Guru terhadap anak harus aktif dan personal, yang hanya bisa dilakukan apabila Guru dapat secara konsisten berkomunikasi dengan orangtua untuk mencari tahu kebiasaan serta minat anak, sehingga Guru dan Orangtua dapat bersama-sama menyusun strategi untuk mendekati anak dan perlahan-lahan rasa nyaman anak mulai terbangun.

Di sisi lain, orangtua juga memiliki kewajiban untuk mempersiapkan anak dalam memasuki lingkungan yang baru. Persiapan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya ketika menyiapkan bekal, bawakanlah dalam jumlah lebih dan pesankan pada anak \\\"Nanti kue-nya adik bagi ya sama teman-teman..\\\". Lalu ketika pulang dari sekolah, tanyakan pada anak \\\"Adik, tadi kuenya dibagi sama siapa?\\\" Bisa juga kita mempersiapkan anak untuk bercerita pada Guru barunya, mengenai sesuatu yang baru saja ia alami, misalnya \\\"Adik nanti cerita ya sama Bu Guru, kemarin adik pandai sekali lho.. makannya nggak disuapi\\\" lalu Guru juga bisa \\\'menyambut\\\' cerita ini dengan memberi hadiah sederhana misalnya guntingan kertas berbentuk bintang atau cap di tangan anak, yang tentunya akan membuat anak merasa mendapat perhatian khusus. Pertanyaan seperti \\\"Adik tadi belajar apa?\\\" atau \\\"Adik tadi senang tidak di sekolah?\\\" mungkin terlalu rumit untuk dijawab oleh anak, karena waktu yang ia lalui di sekolah baginya sangat panjang dan terisi banyak kejadian, sehingga untuk menyusun cerita yang menggambarkan apa yang ia lakukan atau senang tidaknya ia di sekolah, amatlah sulit. Tetapi bila pertanyaan kita persempit menjadi \\\"Adik tadi di kelas duduk di sebelah siapa?\\\" atau \\\"Tadi Bu Guru mengajak Adik bernyanyi lagu apa?\\\" mungkin anak akan dapat lebih mudah memberi jawaban karena ia memiliki gambaran yang lebih terfokus tentang pengalamannya di sekolah hari itu.


Kepercayaan Orangtua
Hal sederhana yang menurut Ibu Romy juga memegang peranan penting dalam proses adaptasi anak adalah suasana hati orangtuanya. Kecemasan orangtua menular pada anak. Itu adalah fakta penting yang harus diingat oleh kita semua pada saat mendampingi anak, khususnya saat harus melalui proses adaptasi di lingkungan yang baru. Walaupun sepenuh daya kita berusaha untuk tidak mengkomunikasikan kecemasan dan keraguan kita pada anak, tetapi melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah sangat mudah ditangkap oleh anak. Oleh karena itulah, kepercayaan orangtua terhadap sekolah, khususnya Guru amat besar artinya dalam membantu anak membangun zona nyamannya, sehingga proses adaptasi dapat dilalui tanpa kesulitan yang berarti.

Dalam menjalani proses adaptasi dengan lingkungan baru ini, kita juga harus selalu ingat bahwa waktu yang dibutuhkan oleh seorang anak untuk bisa beradaptasi pastinya akan berbeda dengan anak lainnya. Oleh karena itu, kita tidak dapat membuat target maupun patokan bahwa proses ini harus bisa dilewati dalam jangka waktu tertentu. Tetapi proses ini tidak boleh dihindari, karena merupakan dari perjalanan tumbuh-kembang anak. Dalam tugas perkembangannya, setiap anak harus memiliki pengalaman membangun hubungan interpersonal dengan (banyak) orang lain, walaupun tentunya secara bertahap.

Latihan untuk \"Menghadapi Dunia\"
Cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya pastilah tak berujung dan tak berbatas, dan betapa atas nama cinta serta kasih sayang itu rasanya kita ingin selalu menjaga serta melindungi anak-anak kita dari gangguan apapun, termasuk dari perasaan tidak nyaman. Namun sesungguhnya, hati kecil kita pun tahu bahwa kita tak mungkin 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu terus-menerus melindungi dengan cara membiarkan anak berada dalam genggaman kita. Kelak dalam kehidupan bermasyarakat, akan tiba saatnya anak kita harus menghadapi situasi yang kurang menyenangkan, kondisi yang tidak nyaman dan juga banyak sosok manusia dengan beragam karakter. Proses adaptasi yang sekarang mereka lalui adalah latihan-latihan kecil untuk mempersiapkan menjelang saat-saat itu, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita, orangtuanya.

------------------------------------- (hds08/06)

ditulis oleh Dr. Rose Mini A. Prianto M.Psi, untuk orangtua murid TKAI